Kisah Bumi Perkemahan Angker


perkemahan angker

Masih teringat kejadian horror yang pernah saya alami sekitar 10 tahun yang lalu, ketika itu aku duduk dibangku SMK kelas 2. Seperti biasa, acara akhir tahunan sekolah kami mengadakan kegiatan kemah selama 4 hari 3 malam, lokasi kemah itu berada di daerah Jawa Tengah, tempatnya rimbun banyak ditumbuhi pepohonan yang bisa dikatakan besar, diutara areal perkemahan terdapat semak belukar yang banyak ditumbuhi ilalang. Acara perkemahan yang awalnya berjalan normal tanpa ada gangguan mistis berubah menjadi mencekam dimalam ketiga setelah panitia kemah menyuruh para peserta kemah membabat habis semak belukar itu sore hari sebelum matahari terbenam.

Awal mula terror hantu itu terjadi setelah sehabis maghrib, suara jeritan dari salah satu tenda cewek terdengar jelas ditelingaku. Suasana yang tadinya hening berubah menjadi mencekam. Di dalam tenda itu terdapat 2 cewek saja, namun salah satu dari mereka kerasukan makhluk halus dan tiba-tiba menari-nari bak penari tradisional jawa.

Terror tak berhenti sampai disitu, sebut saja Andi dan Heri. Andi yang malam itu kebelet buang air kecil mengajak Heri untuk menemaninya ke toilet, lokasi toilet memang cukup jauh. Toilet itu terdiri dari 4 kamar mandi yang menghadap ketimur, sedangkan penerangannya hanya mengandalkan satu lampu kuning ditengah. Sedangkan jalan dari perkemahan menuju toilet tidak ada penerangan, disebelah kanan kiri hanya ada tumbuhan besar. Andi dan Heri masuk ke kamar mandi masing-masing, namun setelah heri keluar dari kamar mandi, dia mendapati Andi sudah tidak berada dikamar mandi yang dia masuki tadi. “Kurang ajar tuh anak, tadi ngajak-ajak eh taunya ninggal gue”, ucap Heri kesal.

Beberapa langkah Heri meninggalkan toilet, tiba-tiba ada yang manggil dia, “Heriiiii, toloooooong”, ucap suara rintihan wanita seperti kesakitan! Terkejut Heri menengok kebelakang, dia melihat sesosok wanita berambut hitam berbaju putih kumel dengan noda darah, yang lebih bikin serem muka hantu itu penuh luka dengan beberapa belatung menghiasi wajahnya, taringnya menyeringai , tangannya melambai-lambai dengan kukunya yang panjang itu kearah Heri seperti orang minta tolong. Heri seketika mematung hingga akhirnya dia bisa berlari terbirit birit sedangkan sosok itu tertawa cekikikan.

perkemahan angker


Andi yang waktu itu bersama Heri, mengaku kalau ketika dia keluar dari kamar mandi melihat Heri sudah menunggunya didepan pintu. Tapi, anehnya sosok Heri begitu pucat! Beberapa kali Andi mengajak ngobrol, Heri hanya menganggukan kepala saja. “Wah parah lu ndi, selesai kencing ninggalin gue!”, ucap si Heri sesampainya di tenda. “Lah! Apaan tadi lu diem aja tak ajakin ngobrol, eh tau tau lu lari ninggalin gue dijalan sana. Kiarin balik ke tenda, terus tadi lari mau kemana?”, ucap Andi yang waktu itu belum sadar jika itu sosok hantu yang menyerupai Heri.

Berbeda dengan yang dialami Andi dan Heri, malam itu hujan rintik-rintik dan panitia mewajibkan para peserta kemah untuk masuk kedalam tenda masing-masing. Selaku Pembina Pramuka, Pak Ridwan ditemani Anton berkeliling memastikan tidak terjadi apa-apa kepada para peserta, setibanya mereka diujung utara areal perkemahan, tepat berada ditepi semak. Mereka seperti dilempari kerikil dari atas pohon, celingukan mereka hingga kepala mereka  mengarah ke atas dan melihat sosok hitam besar berbulu lebat, taringnya panjang matanya melotot merah, makhluk itu berusaha meraih Anton. Mereka berdua tunggang langgang masuk ke bangunan yang dijadikan basecamp panitia.

Malam yang begitu mencekap akhirnya berakhir hingga siang hari apel terakhir sebagai penutup acara. Konon katanya, penunggu-penunggu semak belukar itu murka karena rumahnya dibabat oleh para peserta kemah. Hingga akhirnya ketika aku bekerja dan bertemu adik kelas, dia bercerita jika setelah kejadian itu pihak pengelola bumi perkemahan memutuskan hubungan kerja sama dengan sekolah kami karena telah melakukan hal yang fatal.   

0 Response to "Kisah Bumi Perkemahan Angker "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2